Minang 'Everywhere'
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Apa kabar, teman-teman? Gimana puasa-nya? Semoga lancar dan bisa nabung pahala sebanyak-banyaknya yaa!
Sebulan terakhir saya dapat teman-teman baru yang baca tulisan saya di blog lalu ngajak diskusi di email tentang seleksi beasiswa LPDP, terima kasih sudah membaca tulisan saya ya! Semoga dapat membantu :)
Nyaris 3 bulan saya nggak nulis di blog. Jadi ceritanya, ketika semester 1 perkuliahan pascasarjana, saya sempat ditanya oleh beberapa orang senior, inti percakapannya hampir sama, kira-kira begini:
Q: Gimana kuliahnya? Lancar?
A: Alhamdulillah lancar kak, tapi banyak tugas banget ya, yang individu, yang kelompok, belum lagi beberapa mata kuliah yang mesti kuliah lapangan keluar kota. hehe
Q: Aah, itu mah belum seberapa. Cobain deh nanti semester 2. hihi
Daaan, ketika masuk semester 2, entah terpengaruh sugesti atau memang kenyataan, semester 2 memang terasa berat. Tapi kemungkinan besar memang kenyataan, karena yang ngerasain bukan cuma saya tapi berdasarkan hasil curhatan beberapa orang teman, yang lain juga merasakan hal yang sama. Seperti biasa, ada tugas individu, ada tugas kelompok, dll. Bedanya, ada beberapa mata kuliah yang bikin tugas kelompok dan presentasinya sampe 3 kali / lebih, pun tugas individunya. Selain itu, tugas metodologi yang mengharuskan bikin proposal kuantitatif dan kualitatif. Cukup membuat mind-blowing.
Hmm, okey sepertinya intro-nya udah kepanjangan. hihi. Yang penting sekarang semester 2 sudah selesai, dan hasil dari proses yang dilalui juga udah keluar, Alhamdulillah. Mari menghadapi semester 3 yang berarti: Proposal Tesis (do'akan saya semoga lancar ya ^^)
Nah, seperti seringnya terjadi, ketika ada tugas yang menanti, semua hal terlihat lebih menarik dari tugas itu sendiri. Dan malam ini secara random saya ingin menulis di blog buat refreshing dulu sebelum nyelesaiin tugas. hehe #alasan
Saya mau cerita tentang pengalaman saya dengan perantau Minang, yaitu orang-orang yang bersuku Minangkabau dan berada di daerah luar Sumatera Barat. Dulu saya yang tidak pernah keluar dari daerah Minang (Sumatera Barat) selama 22 tahun ini, lebih banyak bertemu dan berinteraksi dengan orang Minang (ya iyalah). Entah itu keluarga, lingkungan rumah, lingkungan sekolah dan kuliah.
Ketika saya untuk pertama kalinya merantau (cieee) ke pulau seberang untuk berkuliah, maka banyak hal yang saya sadari. Salah satunya adalah: orang Minang ada dimana-mana. Bukan, bukan hanya karena ada Rumah Makan Padang / Warung Nasi Padang, tapi apapun profesinya. Bukan juga orang-orang Minang yang berdagang di Tanah Abang karena memang banyak sekali orang Minang disana..hehe..
Hal lucu yang saya alami adalah untuk beberapa kali kesempatan saya secara "kebetulan" dipertemukan atau dihubungkan dengan orang Minang ketika diperantauan. Yah, karena tidak ada yang kebetulan di dunia ini, mungkin memang sudah Qadarullah :)
Pertama kali, yang saya ingat adalah ketika di suatu grup WhatsApp yang isinya sekitar 150an orang dan terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk suatu keperluan saya menanyakan suatu hal di grup, dengan harapan yang memiliki pengalaman sama dapat memberikan masukan/solusi. Lalu tidak lama, seseorang menjawab di grup dan izin untuk menjapri saya. Kalau tidak salah saya menanyakan suatu kelengkapan berkas untuk mengurus sesuatu. Jadi, beliau yang menjapri ini mengirim screenshot contoh-contoh berkas yang diperlukan. Ketika melihat berkas-berkas tersebut, saya malah salah fokus melihat tempat lahir beliau di Bukittinggi, oalah, orang Minang juga ternyata, ujung-ujungnya malah ngobrol :D
Di lain kesempatan, saya sedang duduk di suatu kelas untuk sit-in (aslinya saya tidak mengambil mata kuliah itu, tapi hanya duduk untuk ikut belajar). Karena bukan penghuni tetap, saya duduk dibelakang, agak ke ujung. Tidak lama, duduk di sebelah saya seorang Mbak. Sambil menunggu dosen, beliau mengajak saya mengobrol (di beberapa situasi, saya bukan orang yang suka memulai percakapan..hehe). Singkat cerita, ketika sudah ngobrol panjang lebar dalam bahasa Indonesia sampai Mbak-nya curhat tentang tugas yang banyak sampai dia nggak sempat ajakin anaknya liburan, lalu teman saya (orang Minang juga) datang dan duduk di sebelah lain saya dan bicara dalam bahasa Minang. Eh, si Mbak tadi malah ketawa lalu bilang "eh urang awak kironyo", yang artinya: "eh ternyata orang Minang juga". Lalu kita sama-sama menanyakan daerah asal, dan menertawakan pembicaraan kita tadi yang dalam bahasa Indonesia dan pake "Mbak-Mbak"..haha
Tidak kalah lucu, hari itu ada kuliah pengganti di hari Sabtu. Selesai kelas, saya berpisah dengan teman karena berbeda arah pulang. Saya berjalan sendiri menuju gedung belakang fakultas. Ketika sedang berjalan dengan pikiran kemana-mana, tatapan lurus ke depan, dan diam (ya iyalah mau ngobrol sama siapa, kan jalan sendiri. hehe *krik krik). Seseorang yang berjalan dari arah berlawanan bertanya "Maaf mbak numpang tanya, gedung G yang mana ya?" Setelah menyadari beliau nanya ke saya (karena ada beberapa orang lain yang jalan di sekitar kami) saya menjawab "Oh, disana mbak. Bareng aja, saya juga lewat sana." Mbak-nya bilang "Oya? Makasih. Kuliah disini ya Mbak?" Lalu saya jawab: "Iya mbak. Mbak dari mana? Ada acara ya disini?" Mbak-nya jawab lagi "Iya mbak, saya mau ikut simak UI, jadi sekarang mau latihan soal." Saya nanya lagi: "Ooh gitu. Asalnya dari mana Mbak?" Jawabannya, seperti bisa ditebak: "Saya dari Padang, Mbak". Hahaha, itu seriusan saya ketawa lalu menjawab dalam bahasa Minang dan dilanjutkan dengan percakapan singkat hingga sampai di tempat tujuan beliau dan kami pun berpisah.
Dan banyak lagi kejadian serupa. Misalnya, abang-abang fotocopy dekat kosan yang iseng banget liat surat domisili yang lagi saya fotocopy, jadi terlihatlah tulisan daerah asal saya dari Bukittinggi, tau-nya beliau juga orang Minang. hehe.
Kejadian-kejadian itu menurut saya lucu, terlihat "kebetulan", seperti ada radar yang menghubungkan kami (eaa, perahu kertasku kan melajuuu...). Atau memang karena terlalu banyak orang Minang yang tersebar dimana-mana? Hehe
Saya pernah baca, tapi lupa sumbernya dari mana, yang kalimatnya kira-kira begini:
"Kalau dunia punya orang China, maka Indonesia punya orang Minang" :D
Bertemu orang Minang diperantauan itu seperti bertemu teman lama, bisa merasa seperti di kampuang (nan jauah di mato~)... hihi
Sekian cerita saya hari ini, semoga dapat sedikit menghibur (emang tulisan ini berjenis hiburan? hmm). Semoga ke depannya saya bisa menulis hal yang lebih bermanfaat dari sekedar curhatan (hihi).
Selamat menjalankan ibadah puasa di 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini, semoga kita dapat menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan pandai bersyukur.. Aamiin ^^
See you soon, insyaAllah~
Komentar
Posting Komentar