Tentang Pernikahan

Belakangan ini saya (yang mudah sekali menghayati sebuah tulisan #hehe) menyadari bahwa media sosial, sungguh, kalau tidak pandai mengelola, akan menjadi sumber dari banyak sekali penyakit hati.

Seperti kata Kurniawan Gunadi dalam sebuah caption di salah satu foto ig-nya: "Selamat menjaga prasangka. Apalagi ditengah feeds ig yang berpotensi membuat kita sulit berterima kasih kepada yang memberi kita kehidupan ini :)"

Na'udzubillah, jangan sampai ya (ngomong sama diri sendiri). 

Menurut saya kalimat ini deep sekali. Karena kita (saya) tidak dapat mengontrol apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain, jadi saya mencoba membatasi kegiatan saya di medsos. Mencoba memilah-milih mana yang penting dan tidak untuk dilihat/dibaca ataupun diposting. And, that's why I lost my interest to post photos or personal stories, lately. 

Tapi saya tetap ingin mem-posting sesuatu yang menurut saya bermanfaat (hehe) insya Allah.


Btw, diatas cuma intro, yang mungkin juga sedikit terkait dengan hal yang mau saya bicarain: "pernikahan"

"Hal yang bercandanya dianggap serius, seriusnya dianggap serius pula, yaitu nikah, talaq, dan rujuk."


Bagi saya yang berada pada usia 25 tahun ini, tema "pernikahan" ataupun "jodoh" sudah sangat akrab di telinga. Bukan hanya dalam bentuk pernyataan, tapi juga pertanyaan..haha


Menikah, merupakan 1 dari 3 mitsaqan ghalizha.


Beberapa poin yang menjadi renungan saya dengan status "belum dipertemukan" adalah...

Luruskan Niat
Mungkin Allah mau kita (saya) perbaiki dan luruskan niat dulu. Karena masalah niat ini sangatlah penting, bukan. Seperti potongan paragraf dalam buku "Cinta Yang Baru" oleh Ahimsa Azaleav: "Jadi kalau menikah itu harus karena Allah. Kalau nggak karena Allah, nanti dicabut apa yang dicintainya. Misalnya menikah karena harta, maka akan dicabut hartanya, menikah karena cantik maka akan dipudarkan kecantikan dari pandangan pasangannya..." (kutipan pula dari fikih munakahat)
Subhanallah :"
Dan bahkan, hadits pertama di Hadits Arba'in saja membahas tentang "niat". Sebegitu pentingnya niat dalam ibadah, maka semoga Allah mudahkan kita meluruskan niat dalam semua amal ibadah, untuk meraih ridha-Nya.

Berbakti pada Orang Tua
Memang, berbakti pada orang tua adalah kewajiban tiap anak sampai kapanpun. Namun, sebelum surga berpindah ke ridha suami, semoga kita (saya) dapat selalu berbakti dan membahagiakan orang tua secara maksimal, sebelum perhatian dan waktu terbagi.
Pernah saya baca, tapi lagi-lagi, lupa dimana (hehe): "Bersyukurlah orang-orang yang cepat menikah, berarti Allah jadikan banyak waktu bersama jodohnya. Dan bersyukurlah orang yang belum menikah, karena Allah jadikan banyak waktu bersama orang tuanya (saudara/keluarga)." Dan semoga setelah menikah pun, bakti kita tetap maksimal pada orang tua dan mertua tentunya.

Mempersiapkan Kesiapan
Saya juga tidak tau bagaimana caranya mengukur "kesiapan". Namun setidaknya, dengan mengetahui apa yang akan kita hadapi ke depan, insya Allah semoga bisa dengan lebih tenang menjalaninya. Karna menikah berarti bukan lagi tentang aku dan kamu, tapi "kita". Jadi sepertinya manajemen ego menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Bahwa ketika sudah menjadi "kita" berarti harusnya masing-masing sudah selesai dengan dirinya sendiri. Selain itu, menikah bukan hanya dengan seseorang, namun sepaket dengan keluarganya, kelebihan dan kekurangannya.

Ikhtiyar
Karena kita tidak tau, di penggalan ikhtiyar kita yang mana Allah ridha. Belum tentu kita temukan jawaban melalui ikhtiyar tersebut. Tapi, bukankah memang itu tugas kita, berusaha sebaik mungkin dan percayakan hasilnya pada Allah. Kalaupun pada proses ikhtiyar tersebut, Allah belum berikan titik terang, insya Allah ada hikmahnya. Allah ajarkan kita sesuatu melalui orang-orang yang kita temui dan kejadian-kejadian yang kita alami. 


"Menikah", kata Tere Liye "bukan lomba lari, yang ada definisi siapa cepat, siapa lelet larinya. Menikah itu juga bukan lomba makan kerupuk, yang menang adalah yang paling cepat ngabisin kerupuk, lantas semua orang berseru hore."

Setuju! Namun, menurut saya bukan berarti hal tersebut menjadikan kita melalaikan ataupun sebaliknya, terburu-buru untuk menikah tanpa persiapan. Once again, karena tugas kita hanya berusaha dan berdo'a lalu tawakkal. Semoga Allah selalu melancarkan dan memudahkan segala niat baik kita.. Aamiin :)

Segera tapi tidak tergesa.



Bukittinggi, 16/08/2017
23:59 WIB

*Ditulis oleh seorang yang belum menikah, semoga dapat menjadi pengingat, menerapkan yang baik dan meninggalkan yang buruk... :)

Depok, 23/09/2018
Depok, 17/11/2018
23.04 WIB
*Tulisan ini diedit dan diposting ulang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Seleksi Substansi Beasiswa LPDP 2016

PK-76 Argya Pastika

Bumi Allah: Bukittinggi