"Where are you from? China?"

Kalimat yang sejauh ini paling lucu, dari seorang anak kecil keturunan India. Sebenarnya bukan pertama kalinya saya dikira keturunan China, tapi entah kenapa kali itu lucu karena keluar dari mulut seorang anak kecil berumur sekitar 10 tahun dan dalam bahasa Inggris...hihi

Jadi ceritanya waktu itu, saya sedang berdiri di suatu tempat, lalu datang seorang anak kecil dan berdiri tepat disamping saya, "Assalamu'alaikum" saya menyapa dan dijawabnya "Wa'alaikumsalam". "Where are you from?", lanjut saya. Kemudian dijawabnya, "I'm from Kashmir". "Oh, India?", saya tanya lagi, dijawabnya "Yeah! And where are you from? China?". Saya lalu tertawa, "Haha, am I look like Chinese? No, I'm from Indonesia". Lalu anak itu tersenyum, entah dia tahu dimana itu Indonesia atau tidak..hehe

Di beberapa kesempatan lain, kalau main kerumah teman untuk pertama kalinya, lalu ditanya oleh Ibunya "Anil turunan China ya?". Waktu masih SMA dan lagi in-nya drama Korea, saya pernah jawab sambil bercanda "gak tante, turunan Korea...hehe"

Pun misal dari teman-teman yang baru kenal juga pernah beberapa kali ditanyakan hal serupa. Saya senyum aja, kadang kalau lagi iseng dibecandain.

Tapi ada satu teman yang anaknya lucu, baru kenal, langsung nodong "kamu ada keturunan Vietnam ya? Iya deh kayaknya, ya kan?" haha

Ketika saya di Malaysia, ada dua atau tiga orang yang menanyakan ke saya ketika berkenalan "Are you a local?" jadi mereka menyangka saya orang Malaysia dong, atau itu hanya cara mereka menanyakan asal saya.. wkwk



Disangka berasal dari suatu daerah yang bukan daerah asal kita sebenarnya, menurut saya biasa saja.  Tidak ada yang salah dengan itu.

Namun kalau kita bicara dalam konteks lain, bagaimana jika orang lain menyangka kita adalah "orang baik"? Padahal, Subhanallah, itu adalah karna Allah menutupi aib-aib kita? Kalau saja dosa itu terlihat melalui noda diwajah atau aroma yang tidak sedap? :(
Semoga Allah ampuni dosa-dosa kita dan dijauhkan-Nya dari sifat 'ujub.

Atau, bagaimana jika sebaliknya? Kita disangka "orang yang tidak baik". Ah, sampai kapan kita memikirkan hal itu, sama halnya dengan sangkaan baik, takkan mengubah nilai kita yang sesungguhnya di sisi Allah. Jadi, semoga Allah mampukan kita berfokus untuk meraih ridha-Nya.



Sudah malam ke-16 Ramadhan, bagaimana kabar imanmu, kawan?
Membicarakan Ramadhan, begitu banyak kenangan di dalamnya. Seperti Ramadhan tahun 1435 H yang dihabiskan di lokasi KKN, atau Ramadhan tahun 1436 H di Padang sambil ngerjain skripsi, atau Ramadhan tahun 1437 H di Bukittinggi dan saat itu nenek meninggal (Allahummaghfirlaha warhamha), atau Ramadhan tahun lalu yang dihabiskan di Depok, ikut panitia ifthar harian dan menyambi tesis. Alhamdulillah, Ramadhan tahun ini dapat membersamai orang tua dan keluarga di rumah. Bagaimana Ramadhan tahun depan ya, semoga masih Allah beri kesempatan untuk berjumpa kembali. Dan bagaimana pun kondisi kita dan dimana pun kita berada, semoga Allah mampukan untuk selalu beribadah dengan baik pada-Nya.

Tapi, hey, masih ada setengah bulan lagi Ramadhan tahun ini, semoga dapat kita manfaatkan Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya, beribadah dengan peningkatan kualitas dan kuantitas, semoga kita mendapat ampunan dari Allah SWT, dan Allah berikan khusyu' dan kenikmatan dalam beribadah kepada-Nya, dengan niat yang lurus. Dan hendaknya begitu pula di bulan-bulan setelahnya... Aamiin allahumma aamiin...



Bukittinggi, 20 Mei 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Seleksi Substansi Beasiswa LPDP 2016

PK-76 Argya Pastika

Bumi Allah: Bukittinggi