Rencana Allah
“Do your best, and let Allah do the rest”
Kalimat diatas tertulis di sebuah
mug, dengan bagian lainnya tertempel foto saya. Jadi, mug ini adalah kado
wisuda dari HIMMPAS UI 2018 (jazakumullah khair, ikhwah!).
Kalimat itu pernah (dan masih
menjadi salah satu) quote favorit
saya. Walaupun begitu, rasanya diri ini masih perlu sering-sering diingatkan
bahwa bukankan tugas kita (saya) adalah berusaha dan berdo’a pada Allah?
Selanjutnya, haruslah kita (saya) bertawakkal atas ketetapan-Nya. Bahwa hal-hal
yang kita (saya) lakukan sebagai ikhtiyar adalah bentuk kesungguhan kita
meminta beriring do’a panjang pada Allah. Untuk hasilnya, Allah-lah yang berhak
memberikan apa yang dikehendaki-Nya dan pasti selalu baik bagi hamba-Nya. Jadi,
jangan sampai kita “menuhankan” ikhtiyar yang kita lakukan, karena semua yang
terjadi selalu atas kehendak Allah.
Seberapa sering kita (saya) dengan
tidak tahu malunya berkata pada Allah atau mungkin sekedar terlintas di hati: “Ya
Allah, saya sudah berusaha, ini sudah yang kesekian kalinya, dan
mengulang-ulang do’a pada-Mu, tapi kenapa hasilnya tidak sesuai yang saya
inginkan?” Na’uzubillah, semoga kita (saya) kembali pada kesadaran, bahwa rencana
Allah pasti indah. Dan jangan sampai kita (saya) berputus asa pada rahmat-Nya.
“Tak seperti kita, Hajar tak
pernah merasa lari tujuh kalinya di lintasan Shafa-Marwah sebagai sesuatu yang
sia-sia. Meski habis tenaganya. Meski tiada hasil langsung darinya. Meski bukan
disana tempat Allah meletakkan karunia. Tetapi memang demikianlah rizqi
orang-orang yang bertaqwa di lapis-lapis keberkahan. Setelah mengihsankan amal
dan menyempurnakan ikhtiyar, serahkan hal selanjutnya pada Allah dengan sepenuh
iman. Dia lebih tahu dimana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana
cara terbaik.” Salim A. Fillah – Lapis-lapis Keberkahan
Tidak ada yang sia-sia dari usaha
yang kita lakukan, semoga Allah turunkan ridha-Nya melalui ikhtiyar tersebut,
dan Ia berikan rahmat-Nya atas do’a-do’a yang kita panjatkan.
Kalau lah semua yang kita lakukan
di dunia ini hanya untuk “saat ini”, sungguh rugi rasanya. Bukankah balasan
dari sisi Allah lebih baik? Semoga ‘amalan apapun yang kita lakukan selalu
dapat kita (saya) niatkan untuk meraih ridha-Nya, hingga dapat menjadi tabungan
pahala di akhirat kelak. Semoga Allah “sibukkan” kita dengan ‘amal ibadah dan
perbuatan yang Ia ridhai hingga diri ini dapat menjawab dengan baik saat
malaikat-Nya bertanya “umurmu, kau gunakan untuk apa?”
“Segala luka dan kecewa tampaknya
kan malu dan meniada... Ketika kita insyafi bahwa, Allah Yang Maha Mengatur tak
pernah keliru, tak pernah aniaya...” Salim A. Fillah – Lapis-lapis Keberkahan
Bukittinggi, 2 Syawal 1440 H
Komentar
Posting Komentar