Bekerja, Untuk Apa?

Pertanyaan itu pernah terlintas dipikiran mu? Aku juga!
Bukan, bukan bermaksud meremehkan, tapi dengan benar-benar bertanya pada diri sendiri. Kamu tahu kan, aku ini perlu sering-sering diingatkan, agar tak salah dalam menentukan arah.

"Defining your destiny before beginning a journey." (Prataphar, S.A.)

Aku pernah mengalami beberapa kali gagal dalam tahapan seleksi pekerjaan. Subhanallah, selalu ada hikmah dibaliknya, selalu ada pembelajaran walaupun terkadang pasti ada masa sedihnya, semoga Allah mampukan kita dalam melihat hikmah atas setiap taqdirnya.


Pertanyaan saya dijudul tadi, bermaksud untuk bertanya pada diri, untuk apa sih kamu kerja?
Apakah untuk mencari rizki? Tapi kan rizki sudah dijamin Allah. Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah:

"Rizki itu sudah dijamin, jadi tidak perlu dikhawatirkan. Apakah berarti kita tidak perlu bekerja? Ya perlu bekerja! Tapi bekerja kita bukan demi rizki yang sudah Allah jamin, rugi. Tapi untuk yang belum dijamin, untuk meraih ganjaran/pahala dari Allah SWT, ikhlas demi Allah.

Kalau kita bekerja demi Allah, maka itqan: ditekuni hingga ahli, ihsan: dilakukan melampaui harapan konsumen, karena kita bekerja bukan karena konsumen tapi karena Allah. Wasilah rizki salah satunya melalui bekerja.


Jika kita pantas digaji 1 M, tapi hanya mendapatkan 30 juta, berarti kita sedang menabung 970 juta kebaikan disisi Allah. Akan 'dibayar' oleh Allah dengan istri yang shalihah, anak-anak qurrata a'yun, kesehatan dan kemampuan utk beribadah, bersedekah, bermanfaat bagi orang lain, disayangi orang lain, dsb.


Begitu juga sebaliknya, ketika kita bekerja dengan kelayakan dibayar 500 ribu, tapi tiap bulannya membawa pulang 20 juta, berarti kita sedang menabung 19,5 juta keburukan disisi Allah dan akan 'ditagih' oleh Allah."



"Innamal a'malu binniyat."

Bukankah niat itu amat penting? Maka pertanyaan pada judul diatas, semoga dapat menjadi renungan bagi kita agar kembali meluruskan niat dalam melakukan kebaikan khususnya dalam bekerja. Semoga dapat selalu kita niatkan pekerjaan kita sebagai sebuah bentuk ibadah pada Allah. Namun semoga kita tidak terlena. Seperti sebuah pernyataan yang baik dan bermakna penting berikut, dari postingan Ustadz dr. Zaidul Akbar di instagram beliau:

"Berangkat jam 5-6 pagi menuju tempat kerja, pulang jam 4-5 sore, dan itu bagian dari ibadah, judulnya begitu, biar jadi lillah..

Bolehkah..? Boleh la..

Kerja keras luar biasa demi ini dan itu, untuk mendapatkan rezeki..Rela-rela berdesakan di angkutan umum, cape-capean untuk kalimat diatas.

Tapi sayangnya.. kerja keras nya yang sebenarnya yang jauh lebih harus ia kerjakan, tak pun ia kerjakan, kerja keras untuk Allah.

Mudah bangun pagi untuk kerjaku ibadahku, tapi beratnya luar biasa untuk menemui Rabb dimalam hari dalam shalat malamnya.

Kerja keras sebagai bagian kerjaku ibadahku, melototin laporan yang super detail dan ngga boleh salah sedikitpun, tapi Al-Quran hingga umurnya saat ini, belum pernah ia selesaikan barang 1 juz saja setiap harinya, tapi laporan berlembar-lembar bisa ia khatamkan dalam sebuah premis baiknya 'kerjaku ibadahku'.

Kerjaku ibadahku, tapi azan belum bisa ia kerja keras menemui Allah yang memanggilnya, karna Allah ngga pake cap jempol kalau manggil, kalau di kerjaku ibadahku ada cap jempol bisa potong gaji kalau telat.

Padahal, tadi pagi dia bisa berangkat ke kerjaku ibadahku, karna jantungnya masih didenyutkan Allah, parunya masih dikembangkan Allah.

Dan sayangnya shalat dhuhanya cuma 2 rakaat saat kalimat kerjaku ibadahku masuk di benaknya.

Dan kerjaku ibadahku membuatnya lupa ngafalin Al-Quran, dari dulu hafalannya segitu-gitu aja, belum nambah, sibuk kerjaku ibadahku.

Ada orang yang rela kerja keras luar biasa untuk urusan dunia, tapi belum mau kerja keras luar biasa mengejar Rabb-nya.

Jadi apa yang kau cari selama hidupmu ini..? Apa yang kau kejar..? Allah atau ciptaannya Allah ..?"


Dear, aku... :(


Semoga Allah mampukan kita dapat membaca situasi dan kondisi, dapat menentukan prioritas, dapat membedakan yang haq dan yang bathil, hingga "bekerja" sebagai salah satu sarana dan tanggung jawab bagi kita atas ilmu yang telah Allah titipkan, agar semakin luas kebermanfaatan kita, yang terpenting Allah ridha dan berikan berkah-Nya.


Penutup, sebuah renungan dari Buya Hamka:

"Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan pun hidup.
Kalau bekerja sekadar bekerja, kera juga bekerja"



Bukittinggi, 26 Oktober 2019
Lagi-lagi, catatan untuk diri sendiri.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Seleksi Substansi Beasiswa LPDP 2016

PK-76 Argya Pastika

Bumi Allah: Bukittinggi