Menjadi, Bukan Mencari
Kenapa begitu sibuk "mencari"? Kenapa tidak berusaha untuk "menjadi"?
Ketika berharap untuk mendapatkan sesuatu, pernahkah berfikir bahwa "pantaskah saya mendapatkannya?". Terkhusus untuk urusan jodoh, ketika berharap untuk mendapatkan jodoh yang shalih, memangnya diri ini sudah cukup shalihah? Ketika berharap Allah berikan jodoh seorang hafizh, sudah berapakah hafalanmu? Haha, ini adalah pertanyaan-pertanyaan untuk diri saya sendiri, saya menikmati bertanya pada diri sendiri seperti ini. Mungkin akan lebih mudah daripada didengar dari orang lain.
Namun, perlu di highlight bahwa semoga tujuan kita ber'amal bukan demi jodoh, semoga semua 'amal ibadah dimulai dengan niat dan bermuara pada Allah. Bahwa seperti kata Ustadz Salim A. Fillah (seperti pada postingan sebelumnya), mendapatkan jodoh yang shalih/ah bukan balasan atas shalih/ah-nya diri, karna balasannya nanti di akhirat kelak. Jodoh yang shalih/ah adalah ujian tahap berikutnya. Jadi, semoga tidak ada ekspektasi dalam diri ini bahwa dengan menikah semua permasalahanmu akan selesai. Atau bahwa dengan mendapatkan jodoh yang shalih/ah maka kamu tak akan temui ujian dalam pernikahan. Namun, semoga dengan dibersamai jodoh shalih/ah, kita dapat melihat ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah, pun menyadari bahwa ujian tidak lebih besar dari Allah Yang Maha Besar, juga mengembalikan segala perkara pada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Kembali lagi ke judul, sebelum kita "mencari", sudahkah kita "menjadi"?
Lebih jauh lagi, kita berbicara tentang anak keturunan. Saya pernah membaca, bahwa kepribadian terbentuk dari genetik dan lingkungan. Jadi, jika kita "mewariskan" kepribadian yang tidak baik pada anak keturunan, walaupun dengan lingkungan yang baik kemungkinan berubah menjadi baik itu selalu ada, tapi akan lebih sulit bukan daripada yang sudah "mewarisi" kepribadian yang baik. Anak yang baik, positif, dan kuat kan terlahir dari orangtua yang baik, positif, dan kuat juga bukan?
Ketika kita berbicara tentang keshalihan, saya (atau mungkin kamu juga) meyakini bahwa hidayah itu milik Allah, kan. Tapi semoga kita sebagai orang tua nantinya menjadi salah satu wasilah hidayah Allah bagi anak keturunan, dengan nasihat dan keteladanan.
Pernah seorang Ustadz berkata, "Jika jadi orangtua, jangan hanya menjadi 'kernet' bagi anak-anak, yang hanya mengantarkan tapi tidak ikut. Jika inginkan anak seorang hafizh/ah, jangan hanya jadikan anak seorang hafizh/ah, tapi sebagai orang tua berusahalah terlebih dahulu menjadi hafizh/ah." Semoga bisa menjadi renungan bagi saya untuk selalu berusaha memantaskan diri.
Maka, semoga kita lebih sibuk "menjadi" daripada "mencari".
Bukittinggi, 23 Desember 2019.
By: Jomblo
Komentar
Posting Komentar