Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Menjadi, Bukan Mencari

Kenapa begitu sibuk "mencari"? Kenapa tidak berusaha untuk "menjadi"? Ketika berharap untuk mendapatkan sesuatu, pernahkah berfikir bahwa "pantaskah saya mendapatkannya?". Terkhusus untuk urusan jodoh, ketika berharap untuk mendapatkan jodoh yang shalih, memangnya diri ini sudah cukup shalihah? Ketika berharap Allah berikan jodoh seorang hafizh, sudah berapakah hafalanmu? Haha, ini adalah pertanyaan-pertanyaan untuk diri saya sendiri, saya menikmati bertanya pada diri sendiri seperti ini. Mungkin akan lebih mudah daripada didengar dari orang lain.  Namun, perlu di highlight  bahwa semoga tujuan kita ber'amal bukan demi jodoh, semoga semua 'amal ibadah dimulai dengan niat dan bermuara pada Allah. Bahwa seperti kata Ustadz Salim A. Fillah (seperti pada postingan sebelumnya), mendapatkan jodoh yang shalih/ah bukan balasan atas shalih/ah-nya diri, karna balasannya nanti di akhirat kelak. Jodoh yang shalih/ah adalah ujian tahap berikutnya. Jadi,...

Penyesalan

Siapa dari kita yang tidak pernah menyesal?  Mungkin, kebanyakan orang pernah merasakannya.  Penyesalan, kata orang pasti selalu di akhir, karna kalau di awal namanya pendaftaran (?) Hehe, krik, nggak, nggak, ini lagi serius. Saya, sedang melihat sekitar, lalu ingin mengingatkan diri sendiri (lagi) kali ini. Banyak cara Allah untuk mengajari kita, saya lupa prosesnya. Tapi yang saya yakini saat ini adalah... Saya termasuk orang yang terlalu banyak pertimbangan ketika mengambil keputusan, entahlah kenapa, mungkin karna diri ini pemikir. Tapi yang selalu saya coba katakan pada diri ini adalah, selalu libatkan Allah  dalam setiap keputusanmu, dalam setiap kebutuhanmu, dalam setiap keraguanmu. Jangankan perkara yang sangat penting, bahkan pada perkara yang amat kecil pun. Maka ketika kita bergantung pada Allah atas setiap apa yang kita hadapi, harusnya tidak ada penyesalan diantara kita.  Ketika keputusan yang kita ambil setelah berdo'a pad...

Bekerja, Untuk Apa?

Pertanyaan itu pernah terlintas dipikiran mu? Aku juga! Bukan, bukan bermaksud meremehkan, tapi dengan benar-benar bertanya pada diri sendiri. Kamu tahu kan, aku ini perlu sering-sering diingatkan, agar tak salah dalam menentukan arah. " Defining your destiny before beginning a journey ." (Prataphar, S.A.) Aku pernah mengalami beberapa kali gagal dalam tahapan seleksi pekerjaan. Subhanallah, selalu ada hikmah dibaliknya, selalu ada pembelajaran walaupun terkadang pasti ada masa sedihnya, semoga Allah mampukan kita dalam melihat hikmah atas setiap taqdirnya. Pertanyaan saya dijudul tadi, bermaksud untuk bertanya pada diri, untuk apa sih kamu kerja? Apakah untuk mencari rizki? Tapi kan rizki sudah dijamin Allah. Kalau kata Ustadz Salim A. Fillah: " Rizki itu sudah dijamin, jadi tidak perlu dikhawatirkan. Apakah berarti kita tidak perlu bekerja? Ya perlu bekerja! Tapi bekerja kita bukan demi rizki yang sudah Allah jamin, rugi. Tapi untuk yang belum dijamin, unt...

Mendekat pada-Nya

Bismillah, semoga Allah selalu jaga niat-niat baik kita dan dimudahkan-Nya untuk terwujud. Kadang kita (saya) terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Padahal kita (saya) harusnya khawatir jika mengkhawatirkan hal-hal yang seharusnya tidak kita (saya) khawatirkan. Astaghfirullaahal'azhiim. Bukankah kita yakin bahwa Allah telah tetapkan rizki kita dan tugas kita hanyalah berusaha dan berdo'a? Yang membedakan adalah cara / usahanya. Dengan cara yang halal / haram, dapatnya ya itu juga, yang berbeda adalah "berkahnya". Dan bukankah itu yang kita harapkan? Berkah dan rahmat-Nya? Keridhaan-Nya? Maka mendekatlah pada-Nya, karena hakikat mencintai berarti ingin selalu mendekat. Kalau mulai menjauh dari Allah, tanyakan pada diri sendiri, apakah benar-benar mencintai atau sebatas ucapan saja? :( Semoga pengharapan ini selalu bertumpu pada Allah, karena apapun ketetapan-Nya adalah yang terbaik untuk kita (saya), menurut-Nya.

Rencana Allah

“ Do your best, and let Allah do the rest ” Kalimat diatas tertulis di sebuah mug, dengan bagian lainnya tertempel foto saya. Jadi, mug ini adalah kado wisuda dari HIMMPAS UI 2018 (jazakumullah khair, ikhwah!). Kalimat itu pernah (dan masih menjadi salah satu) quote favorit saya. Walaupun begitu, rasanya diri ini masih perlu sering-sering diingatkan bahwa bukankan tugas kita (saya) adalah berusaha dan berdo’a pada Allah? Selanjutnya, haruslah kita (saya) bertawakkal atas ketetapan-Nya. Bahwa hal-hal yang kita (saya) lakukan sebagai ikhtiyar adalah bentuk kesungguhan kita meminta beriring do’a panjang pada Allah. Untuk hasilnya, Allah-lah yang berhak memberikan apa yang dikehendaki-Nya dan pasti selalu baik bagi hamba-Nya. Jadi, jangan sampai kita “menuhankan” ikhtiyar yang kita lakukan, karena semua yang terjadi selalu atas kehendak Allah. Seberapa sering kita (saya) dengan tidak tahu malunya berkata pada Allah atau mungkin sekedar terlintas di hati: “Ya Allah, saya suda...

"Where are you from? China?"

Kalimat yang sejauh ini paling lucu, dari seorang anak kecil keturunan India. Sebenarnya bukan pertama kalinya saya dikira keturunan China, tapi entah kenapa kali itu lucu karena keluar dari mulut seorang anak kecil berumur sekitar 10 tahun dan dalam bahasa Inggris...hihi Jadi ceritanya waktu itu, saya sedang berdiri di suatu tempat, lalu datang seorang anak kecil dan berdiri tepat disamping saya, " Assalamu'alaikum " saya menyapa dan dijawabnya " Wa'alaikumsalam ". " Where are you from ?", lanjut saya. Kemudian dijawabnya, " I'm from Kashmir ". " Oh, India ?", saya tanya lagi, dijawabnya " Yeah! And where are you from? China? ". Saya lalu tertawa, " Haha, am I look like Chinese? No, I'm from Indonesia ". Lalu anak itu tersenyum, entah dia tahu dimana itu Indonesia atau tidak..hehe Di beberapa kesempatan lain, kalau main kerumah teman untuk pertama kalinya, lalu ditanya oleh Ibunya "Anil ...

Bumi Allah: Prolog

Terlahir di tanah Minangkabau merupakan salah satu taqdir Allah bagi saya, pun dengan berada di sini selama 22 tahun awal kehidupan saya semenjak lahir. Walaupun tidak hanya di satu kota saja, tapi sebagian besar kota/kabupaten lain di Sumatera Barat yang pernah saya kunjungi (selain Kota Bukittinggi , kota kelahiran saya), "disebabkan" oleh hal-hal yang berhubungan dengan akademik/pekerjaan. Memiliki orang tua yang berprofesi sebagai guru, menjadikan musim libur kami sama (walaupun guru liburnya lebih sebentar). Tapiii, memang dasarnya keluarga saya lebih suka menikmati quality time  di rumah atau setidaknya jalan disekitaran Bukittinggi. Walaupun kadang juga ikut rombongan jalan-jalan sekolahan. Nah, mungkin karna hal ini, saya jaraaang sekali keluar kota, provinsi, pulau, apalagi negara...haha Seingat saya, pertama kali saya keluar kota adalah ke Kota Solok dan Padang , ikut rombongan jalan-jalan guru dan siswa SMP tempat Ibu saya mengajar. Saat itu saya masih...